Safe and SecureUpdate News

RISHA Jadi Andalan Hunian Korban Banjir di Sumatera, Seberapa Kuat dan Layak Jadi Solusi Permanen?

Rumah Instan Sederhana Sehat atau RISHA dipilih sebagai solusi cepat pembangunan hunian bagi korban banjir di Pulau Sumatera,

Rumah Instan Sederhana Sehat atau RISHA kembali dipilih sebagai solusi cepat pembangunan hunian bagi korban banjir di Pulau Sumatera, namun efektivitas dan ketahanannya sebagai rumah permanen masih menjadi bahan diskusi para ahli.

Banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera menyebabkan ribuan warga kehilangan tempat tinggal dan memaksa pemerintah bergerak cepat menyediakan hunian pengganti. Dalam situasi darurat tersebut, Rumah Instan Sederhana Sehat (RISHA) kembali digunakan karena dinilai mampu menjawab kebutuhan pembangunan rumah dalam waktu singkat dan jumlah besar.

RISHA merupakan teknologi rumah modular yang dikembangkan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dengan sistem komponen beton pracetak yang dirakit di lokasi. Dalam kondisi ideal, satu unit RISHA dapat dibangun dalam waktu sekitar 7 hingga 14 hari, jauh lebih cepat dibanding rumah konvensional. Kecepatan inilah yang membuat RISHA kerap menjadi pilihan utama dalam penanganan pascabencana.

Dari sisi struktur, RISHA dirancang tahan gempa dengan sistem sambungan baut pada kolom dan baloknya. Guru Besar Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Iswandi Imran, menilai konsep struktur RISHA secara prinsip sudah memenuhi standar bangunan aman, selama dibangun sesuai spesifikasi teknis.
“Struktur pracetak dengan sambungan mekanis seperti pada RISHA pada dasarnya cukup andal, termasuk untuk wilayah rawan bencana. Kuncinya ada pada mutu material dan ketepatan pemasangan di lapangan,” kata Iswandi Imran dalam berbagai kesempatan membahas konstruksi tahan bencana.

Read More  Serangan Jantung Saat Olahraga: Kenali Tandanya dari Kasus Asisten Pelatih Arema FC

Material beton pracetak yang digunakan RISHA juga dinilai cukup kuat menghadapi cuaca ekstrem, termasuk curah hujan tinggi. Selain itu, desainnya bersifat modular dan memungkinkan rumah dikembangkan secara bertahap sesuai kebutuhan penghuni. Namun, keunggulan teknis tersebut tidak serta-merta menjawab seluruh persoalan di lapangan.

Dari sisi kenyamanan, RISHA kerap dikritik karena suhu ruangannya bisa terasa panas jika ventilasi dan orientasi bangunan tidak dirancang dengan baik. Desain yang seragam juga membuat sebagian warga merasa rumah ini kurang memiliki karakter lokal. Persepsi sebagai “rumah bantuan” atau hunian sementara masih melekat, meskipun RISHA sejatinya dirancang sebagai rumah permanen.

Pakar perumahan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Budi Prayitno, menilai RISHA akan efektif jika tidak hanya dipahami sebagai produk bangunan semata.
“Hunian pascabencana harus dilihat sebagai sistem, bukan hanya rumahnya. RISHA bisa menjadi solusi permanen jika dibangun di lokasi yang aman, didukung infrastruktur, dan menyesuaikan budaya serta iklim setempat,” ujar Budi Prayitno.

Secara teknis, RISHA dirancang memiliki usia bangunan hingga sekitar 50 tahun, setara dengan rumah permanen pada umumnya. Namun daya tahan tersebut sangat bergantung pada kualitas pengerjaan, perawatan rutin, serta penataan lingkungan sekitar. Jika dibangun di kawasan rawan banjir tanpa perbaikan sistem drainase dan mitigasi risiko, rumah sekuat apa pun tetap rentan terdampak bencana berulang.

Dalam konteks penanganan dampak banjir dahsyat di Sumatera, RISHA dapat menjadi solusi permanen bagi masyarakat yang kehilangan rumah, asalkan dibangun di kawasan yang aman dan terintegrasi dengan perencanaan wilayah yang matang. Tanpa itu, RISHA berisiko hanya menjadi solusi cepat yang tidak menyelesaikan persoalan kerentanan jangka panjang.

RISHA pada akhirnya menjadi jalan tengah antara kebutuhan mendesak akan hunian dan tuntutan kualitas rumah layak huni. Tantangan terbesar bukan sekadar membangun rumah dengan cepat, melainkan memastikan rumah tersebut benar-benar aman, nyaman, dan berkelanjutan bagi para penyintas bencana.

Back to top button